Sudah sebulan Esha sekolah, dan senangnya bisa lihat dia mulai menikmati kegiatan-kegiatan di kelas dan berani menggunakan fasilitas sekolah meskipun dia masih belum bisa berbaur dengan teman-temannya dan jadi sangat pendiam. Saya selalu menguatkan hati saya sendiri untuk tidak merasa kasihan melihat Esha duduk di pinggir dan tidak protes kalau teman-temannya naik meja menghalangi pandangan, karena dengan begitu saya bisa menguatkan dan menyemangati Esha untuk belajar mandiri, berani, dan pada akhirnya bisa membela diri. Saya juga lega karena sejauh ini dia bisa mengambil moral di akhir hari-hari sekolahnya dengan bercerita bahwa merebut mainan, memukul, mendorong, mencoret-coret itu tidak baik. Harapan besar saya, sebagai ibu, adalah dia akan terus bisa menggunakan akal sehatnya untuk membedakan mana yang baik, mana yang buruk. Mana yang boleh dan tidak. (dia memang baru dua tahun sembilan bulan sekarang, tapi dia akan jadi gadis remaja nantinya, and without a good head upon her shoulders, you know how scary that could be...)
Di rumah, Esha memperlakukan kertas dan alat tulis seperti yang dia mau, dan itu saja. Dia bukan penggemar buku mewarnai atau penyambung garis putus-putus. Kertas polos adalah yang paling cocok karena disitu dia bisa bikin apa saja semau dia. Lingkaran yang jadi kentang, oval yang jadi ikan, persegi yang jadi rumah, garis-garis yang jadi cacing... Tapi baru seminggu ini saya tahu bahwa koordinasi tangan dan mata-nya ternyata sudah sangat baik. Di sekolah ternyata dia bisa menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Mulai dari meronce potongan-potongan sedotan, menebali titik membentuk garis-garis miring dan lengkungan, sampai mewarnai huruf hijaiyah. Semua dia bereskan dengan rapi. Melihat bagaimana dia menangis waktu pertama kali disodori buku mewarnai dengan gambar apel, saya pikir dia pasti akan butuh bantuan saat mewarnai huruf, tapi ternyata dengan santainya dia memilih krayon kuning dan mewarnai dengan sangat rapi. Surprise! *oh i'm teary happy and proud of her :')*
Mudah-mudahan sesudah libur lebaran ini dia bisa lebih berani dan percaya diri untuk bersosialisasi dan bersuara lantang di kelas.
You've been doing great, girl. I'm so proud of you :* :)
Sunday, August 29, 2010
Bersama, Aku Bisa!
Posted by bu anis at 12:03 AM 0 comments
Labels: esha's progress, sekolah
Saturday, August 7, 2010
cerita tentang Vometa dan si 'S'
Seminggu yang lalu, tepatnya Minggu sore, Esha tiba-tiba muntah setelah maghrib. Awalnya saya pikir dia cuma masuk angin karena sempat ketiduran dekat kipas angin dan sebelumnya dia baik-baik saja. Ternyata sesudah itu dia muntah lagi dan lagi setiap perutnya diisi. Bahkan beberapa teguk teh manis pun bikin dia mual. Maka kami bawa dia ke DSA (dokter spesialis anak) terdekat karena kami sudah panik dan Esha belum pernah seperti itu sebelumnya. Bisa dibilang dia punya lambung tahan banting dan tidak pernah muntah meskipun beraktivitas sesudah makan. Sore itu ruang tunggu dokternya kosong jadi kami tidak perlu menunggu lama. Tapi ternyata DSA-nya samasekali nggak mengenakkan hati (saya). Setelah pemeriksaan singkat -dengan Esha yang menjerit-jerit tidak mau diletakkan di tempat tidur- si dokter bilang dia belum bisa memastikan apa yang sebetulnya terjadi karena muntah adalah gejala umum dari beberapa penyakit. Yang paling mungkin adalah infeksi saluran cerna atau awal dari diare. Saya sudah nggak bisa mikir dan pertanyaan yang tadinya penuh di kepala saya sudah *poof!* begitu saja. Tadinya saya mau tanya; kalau memang infeksi kenapa Esha tidak demam? kalau muntah yang sifatnya otomatis begitu apa gangguannya spesifik di lambung? Tapi sudah keburu ilfeel dan akhirnya sudahlah tebus saja dulu obatnya. DSA ini mempreskripsikan Vometa dan Biothicol. Yang terakhir ini antibiotik.
Sampai rumah saya cari informasi tentang balita-balita yang juga muntah mendadak. Kebanyakan dari mereka memang diberi Vometa, dan penyebab muntahnya macam-macam. Ada yang karena gangguan pencernaan, karena lendir yang tertelan setelah batuk-pilek, dan banyak lagi. Tapi yang pasti jangan sampai si anak dehidrasi karena akibatnya fatal (maka kemudian saya jadi paranoid.) Saya sudah membayangkan kemungkinan terburuk kalau si Vometa ini tidak manjur dan Esha tetap muntah; pergi ke rumah sakit dan Esha diinfus. Tapi alhamdulillah malam itu dia sudah bisa minum susu tanpa dikeluarkan lagi. Jangan tanya seperti apa rasanya tiap kali Esha minta minum (dia pasti kehausan sekali) dan melihat dia meneguk sedikit-sedikit airnya. Dia berhenti muntah tapi kemudian badannya menghangat. Saya bersikeras tidak meminumkan si antibiotik Biothicol ini karena diagnosa yang tidak jelas dan saya tidak mau meracuni Esha dengan obat yang tidak pasti. FYI, Biothicol ini diindikasikan untuk Infeksi yang disebabkan oleh Salmonella, H. Influenzae (terutama infeksi meningokokal), Rickettsia, organisme Gram negatif yang menyebabkan bakteremia (beredarnya bakteri dalam darah), meningitis (radang selaput otak). Aturan pakainya pun harus disesuaikan dengan berat badan pasien. How scary is that? Jadi saya simpan baik-baik saja di kotak hijau itu dan memilih parasetamol dan plester kompres demam untuk menurunkan panasnya. Keesokan harinya Esha sudah mulai cerewet lagi meskipun nafsu makannya menurun drastis dan dia masih trauma dengan mual-muntah yang bikin dia takut untuk minum atau makan banyak.
Alhamdulillah mulai empat hari kemarin dia sudah normal lagi :)
Tapi, sesudah sakit, dia jadi lebih manja. Akibatnya, waktu masuk sekolah lagi, dia minta ditemani di kelas lagi. Hiks. Padahal dia sudah mulai mandiri sebelumnya. Dan baru kemarin saya tau ketakutan dia selain pada anak-anak besar; takut tidak bisa. Oh, baby... Saya tau itu waktu gurunya membagikan buku mewarnai dan kotak crayon. Teman-temannya dengan antusias memilih crayon dan mulai mewarnai sementara dia malah menangis dan bilang pada saya, "Esha nggak mau buku sama crayonnya. Esha kan udah punya di rumah."
Saya bilang, "Sayang, yang di rumah itu buat belajar di rumah. Yang ini buat belajar di sekolah."
Akhirnya dia mau mewarnai tapi masih sambil berkaca-kaca dan minta dibantu. Saya lihat teman-temannya sudah jago-jago mewarnai. Begitu rapi dan berhati-hati. Jadi saya membesarkan hati Esha dengan bilang kalau dia juga pasti bisa kalau mau berlatih. Sayang sekali gurunya kerepotan mengejar anak-anak yang berlarian sehingga tidak punya waktu untuk menengok proses kerja muridnya satu persatu dan bertanya apakah mereka senang atau adakah yang bisa dibantu. Yah, namanya juga orang tua murid, pasti salah satu kerjaannya mengkritik guru :p
Lalu, siapakah si 'S'?
Ini adalah senjata salah satu guru di kelas Esha. 'S' adalah panggilan akrab untuk 'Syaiton' yang sudah dicanangkan sebagai musuh utama semua murid di Permata Hati. Kalau anak-anak sudah tidak bisa dikontrol (ada yang berlari-lari, ada yang rebutan mainan, ada yang membongkar kotak mainan, ada yang teriak-teriak) maka si ibu guru yang satu ini akan bilang, "Ayo yang tidak mau duduk jadi temannya si 'S'!" semua yang menjengkelkan adalah temannya si 'S'. Dan kalau sudah sangat jengkel, beliau akan menggambar si 'S' dengan taring dan mata melotot di papan tulis. Saya mulai bertanya; "Apakah ini sehat buat anak-anak? Apakah karena ini sekolah berbasis agama jadi sah-sah saja terus menerus menjadikan si 'S' ini sebagai ancaman buat anak-anak?"
Oh dear. Saya sedang berusaha jadi lebih dari sekedar kata hati.
Posted by bu anis at 11:46 PM 4 comments
Tuesday, July 20, 2010
Minggu Pertama Esha di Sekolah
Tiga kali pertemuan (Esha sekolahnya cuma 3 kali seminggu, memang :D ) dan masih minta ditemani di kelas. Jadi murid paling muda dan paling mirip bayi mungkin menguntungkan dan tidak pada saat bersamaan.
Hari pertama (13 Juli 2010)
Waktu semua anak-anak harus baris di depan kelas, Esha malah nangis dan minta digendong. Begitu banyak orang, banyak ibu-ibu. Crowded kayak di pasar, huehehehe, dan masih separo anak di kelasnya masih minta ditemani. Terbayang kan gimana padat merayapnya kelas Melati hari itu? Suara anak-anak nangis, jerit-jerit rebutan mainan, dan dua orang guru di kelas rasanya jauh dari memadai untuk situasi macam itu. Yang paling menjengkelkan, ada anak laki-laki berbadan besar yang tangannya ringan macam bulu; pukul, dorong, cubit, jambak. Lengkap. Esha yang mungil begitu juga jadi korbannya. Untung saya masih menemaninya, jadi bisa buru-buru saya peluk. Gurunya terlalu sibuk menurunkan anak-anak yang naik ke meja, mengeluarkan mereka yang masuk ke kotak bola-bola dan seolah sedang di taman ria, melerai anak yang berebut puzzle... Ya Tuhan. Energi dan emosi mereka pasti terkuras habis hari itu. Saya sangat mengerti. Tapi saya tetap mengharapkan kontrol yang lebih baik dari mereka. Seharusnya satu orang guru bisa berdiri di depan kelas, membawa alat musik atau boneka tangan dan mencoba memusatkan perhatian anak-anak padanya dan bukannya duduk di satu sisi kelas dan terus mengajarkan doa ke doa (Al-Fatihah, doa mau belajar, doa mau makan, doa selesai makan, doa mau pulang, doa naik kendaraan.) Sembilan puluh menit pertama sangat tidak efektif jadinya. Bukannya saya bilang mengajarkan berdoa itu tidak perlu, tapi sepertinya harus diterapkan cara yang lain supaya anak-anak tertarik dan mau mendengarkan.
Sepanjang hari itu Esha duduk merapat pada saya tapi syukurlah dia kemudian mau bersalaman dengan gurunya di akhir kelas dan mengambil bintang kertas dari depan kelas.
Hari kedua (15 Juli 2010)
Overall, semuanya membaik. Dia mau ikut berbaris meskipun masih harus nempel ke saya karena ketakutan lihat ada Vino (si tangan bulu) di sebelahnya. Di kelas dia mulai mau berbaur dengan teman-temannya, dan saya senang sekali karena mereka pintar-pintar (sudah mengenal warna, bentuk, lihai menyusun puzzle) dan yang paling penting Esha bisa lihat contoh dari mereka untuk berani memperkenalkan diri di depan kelas. Pulangnya dia sudah mau berbaris sendiri dan minta cap tangan dari gurunya.
Hari yang sama, begitu banyak orangtua yang bertanya pada saya berapa usia Esha. Mungkin karena dia kelihatan belum cukup umur untuk sekolah :D
Hari ketiga (17 Juli 2010)
Hari Sabtu, ayahnya libur dan ikut mengantar ke sekolah. Saya berharap dia jadi lebih semangat dan antusias menunjukkan ini dan itu pada ayahnya. Ternyata, dia malah melempem. Bahkan mogok di depan gerbang. Waktu berbaris dia menangis lagi dan minta pulang. Tapi setelah saya bujuk-bujuk, dia akhirnya mau masuk kelas dan meletakkan tasnya sendiri di rak. Hari itu menyenangkan buat dia karena sudah mulai ada lagu dan permainan di kelas dimana dia dengan gembiranya ikut berpartisipasi.
Tugas saya sekarang adalah membantunya untuk percaya pada dua gurunya dan berani untuk melepaskan diri dari saya pelan-pelan. Tentunya dengan catatan bahwa gurunya juga harus terus mengawasi Vino yang sudah jadi ancaman buat semua orangtua murid kelas Melati. What's wrong with the boy? Kenapa ibunya diam saja melihat anaknya begitu ringan tangan dan bolak-balik ditegur? It's none of my business but will surely be if he ever touches my daughter again.
Secara pribadi, saya sangat ingin bicara dengan guru kelas Esha dan berbagi pikiran tentang cara mengajar. Kurikulum sekolahnya seharusnya bagus, tapi kalau eksekutor-nya tidak, lalu apa gunanya? Saya tau betul seperti apa anak-anak yang baru pertama kali masuk ke lingkungan sekolah. Mengharapkan mereka bisa langsung mandiri dan menurut akan jadi terlalu melambung. Hari-hari pertama seharusnya adalah kesempatan untuk membangun kepercayaan antara murid-guru-orangtua. Icebreaking sangat perlu di saat-saat awal. Seharusnya ada momen intim, tenang, dan hangat. Membaca dongeng, roleplaying menggunakan boneka, dan terus menerus menyebutkan nama tiap anak bergantian seharusnya cukup untuk itu. Guru-guru Esha kelihatannya terlalu terpaku pada teks, kebiasaan, dan pakem yang mungkin sudah mereka lakukan bertahun-tahun.
Mungkin saya yang terlalu idealis? Terlalu protektif terhadap Esha?
Tetap saja, saya sangat ingin bicara dengan guru-gurunya. Tiap tahun anak-anak semakin pintar dan pasti selalu berbeda. Seharusnya perubahan di kelas juga layak diterapkan.

Posted by bu anis at 12:19 AM 0 comments
Labels: esha's progress, ibu, parenting, personal
Tuesday, June 29, 2010
potty training yang berhasil :)
saya sudah sejak tahun lalu berniat mengajari Esha untuk pipis dan pup di toilet, tapi kok jadinya cuma wacana saja. akhirnya saya tetap terus memakaikan dia disposable diaper sambil memikirkan bagaimana nanti kalau dia sudah mulai sekolah, bagaimana kalau kontribusi saya untuk global warming terus meningkat akibat sampah popok, dan bagaimana kalau Esha jadi terus tidak terlatih untuk menahan diri agar tidak ngompol.
karena sejak beberapa hari lalu Esha sudah mulai fasih menggunakan toilet dan saya selalu coba untuk kasih dia waktu beberapa saat 'nongkrong' disana sebelum mandi - dan beberapa kali berhasil - maka kemarin saya betulan menjalankan niat saya untuk tidak memakaikan popok setelah mandi pagi. ternyata sukses besar! dia pipis sebelum tidur siang dan tidak ngompol sampai waktunya mandi sore. popoknya cuma dipakai selama dia tidur.
hari ini saya ulangi cara yang kemarin dan selalu saya ingatkan kalau dia kebelet harus bilang (biasanya dia baru bilang kalau sudah terlanjur ngompol :)) ). sukseeeesss. dia pipis di toilet lagi sebelum tidur siang. senangnyaaa... biarpun potty trainingnya kilat dan tanpa pispot tapi alhamdulillah sudah menampakkan hasil :D
Posted by bu anis at 3:56 PM 0 comments
Labels: esha's progress
Friday, June 11, 2010
sore itu...
... waktu saya dan suami sedang ngobrol tentang sekolah formal dan jam kerja, saya bilang, "wuahh... untung udah gak dikejar-kejar waktu dan jam. everyday's like sunday :D"
dan suami saya bilang, "nggak sadar ya kalau jadi ibu justru gak ada liburnya?"
Posted by bu anis at 4:50 PM 0 comments
Monday, June 7, 2010
when is the right time?
there were times when i really wanted to conceive and have another baby in the house. at those times i could really just try to make it happen. but the more Esha grows, the more discussion comes around my husband and i. things like if Esha is independent enough to be a big sister (the fact is we always know that she will always be ready to be a big sister whenever the time is. it's a natural process as long as the parents do their homework too), and whether we should expect the conceiving to happen after we move to our new house (which still takes LOTS of time to improve).
but the inconvenient truth my husband and i know is that we have fallen in love with Esha too much and been enjoying our every single second with her like crazy. we wonder if we could share our hearts. it doesn't sound fair to me (despite the fact that even the fertilization hasn't happened yet). probably him being the last child -and only boy- in his family and me being the first child in my family make us see this matter in different ways.
i don't know... i guess we're just not ready yet and that we're having too much fun with Esha at the moment and just wanting to seize our days with her for the time being. i believe the time will come for us to make the real decision and up our minds about it.
Posted by bu anis at 3:21 PM 0 comments
Labels: personal
Saturday, June 5, 2010
thought of the moment
why do some parents say, "you're just a kid. you don't know what you want. just let me choose what's good for you." don't they learn that kids know better? why don't they spare some time to listen and talk rather than patronizing and dictating?am i becoming one of the lousy parents?
hopefully not...
Posted by bu anis at 2:59 AM 0 comments
