Showing posts with label ibu. Show all posts
Showing posts with label ibu. Show all posts

Saturday, August 11, 2012

Beda Tapi Sama



Akhir-akhir ini, beli baju atau sepatu buat Esha bikin kami banyak argumen. Dia anak perempuan yang picky dan punya selera sendiri. Apa yang saya pilihkan hampir selalu tidak cocok sama yang dia suka. Biasanya dia bilang, “Tsk. Esha gak suka banget baju ini.“ Saya -maunya- dia pake baju-baju simple yang tidak banyak detil aneh-aneh, sepatunya biasanya saya pilih yang model pantovel sol karet atau kanvas. Tapi, eeeeh... Esha lebih suka model beginian:

“Aduh, Sha...“ saya bilang, “Ini bisa bikin kamu kepelitek. Modelnya juga aneh.“ Tapi dia super ngotot. Kalau sudah A ya A sampai titik darah penghabisan. Akhirnya ya jadilah dia beli selop itu untuk kemudian tak-tok di dalam rumah.

Esha adalah gambaran masa lalu saya :p Dulu saya juga selalu berdebat sama ibu soal apa yang saya pakai. Ibu suka gadis rapi dan feminin, saya cenderung berantakan. Ibu berharap saya mau pakai jins baggy, saya pilih model cargo. Demikianlah. Harusnya saya bisa lebih mengerti Esha dan tidak stress saat belanja dengannya. Untung ayahnya bisa jadi penengah :D

Saturday, July 23, 2011

Menjadi Orang Tua Yang Sehat

Beberapa minggu lalu, di Dr. Oz Show (yes, i LOVE him. think we should have more doctors like him around. seriously) ada sepasang suami istri yang punya masalah dengan pola hidup dan berat badan mereka. Sejak menikah dan punya anak, mereka mulai makan secara tidak sehat dan lalai berolahraga apalagi memeriksakan kondisi kesehatan mereka sampai suatu hari si suami merasakan sakit di dada sampai dia jatuh di depan dua anak perempuan mereka yang masih kecil-kecil. It was the wake-up call. Pemeriksaan kemudian menunjukkan betapa tidak sehatnya mereka, bahkan tubuh si istri 45%-nya adalah lemak dan suami bermasalah dengan kolesterol. Saat itu umur mereka adalah 34 dan 42 tahun.

Si istri mengatakan bahwa rasa tidak nyaman dan sakit di tubuh mereka sudah seringkali datang, dan mereka tau pasti itu karena pola hidup mereka yang tidak sehat setelah menikah. Tapi mereka enggan memeriksakan diri karena tau hasil lab akan menunjukkan banyak hal yang salah dengan tubuh mereka dan membeberkan kelumpuhan atau kematian bisa datang tiba-tiba karena kondisi itu. Mereka takut untuk mendengar kebenaran tentang itu. Dr.Oz bilang, "Rasa sakit di dada Anda saat itu seperti dering telepon. Bisa Anda abaikan, tapi dia akan terus berbunyi sampai terlambat untuk menjawabnya. Sakit itu muncul dan hilang, tapi saat dia tidak terasa bukan berarti dia tidak ada. Lalu kenapa Anda ada disini?"

Jawaban sang ayah sangat mengena. Dia bilang, "Saya mau sehat. Saya mau terus hidup untuk melihat dua anak perempuan saya lulus sekolah, diwisuda, menikah..." Jreng jreeeeng. Ya, saat seseorang jadi orang tua, dia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri. Dia harus sehat supaya bisa melakukan tugasnya sebagai orang tua dan melihat anak-anaknya tumbuh sehat dan sejahtera. Kesehatan kita sebagai orang tua sama pentingnya dengan kesehatan anak-anak. All in all, kesehatan keluarga selalu yang paling penting. Sehat itu nikmatnya luar biasa lah pokoknya.

Dr. Oz Show hari itu juga jadi wake-up call buat saya. Sudah lama saya sadar bahwa kami (saya dan suami) harus hidup lebih sehat dan teratur memeriksakan kesehatan kami. Selama ini, sejak menikah dan punya anak, sakit saya "cuma" flu, gangguan pencernaan, sakit gigi... tapi dengan pola hidup yang terbilang lumayan parah (banyak kopi, makan "junk food", kurang buah dan sayuran, tidak ada olahraga) saya harusnya tau setidaknya ada yang salah dengan badan ini. Kurang berusaha untuk memperbaiki diet, malas olahraga, dan takut untuk check-up adalah tiga hal yang HARUS saya perangi. Dengan rencana untuk punya bayi lagi tahun depan, setidaknya saya harus berani periksa untuk tau saya sehat dan siap untuk hamil lagi.

Seharusnya, setiap kali saya lihat Esha, saya tau kenapa kesehatan ayah dan ibunya harus dijaga. Bukan hanya untuk kebaikan kami.

Friday, March 18, 2011

grafik menurun

Sejak awal semester dua ini, Esha gak semangat sekolah. Tiap pagi di hari-hari sekolah, dia hampir selalu rewel. Mulai dari susah bangun, susah mandi, dan beberapa kali bolos. Akhirnya kemarin dia bilang, "Bu, Esha belajar di rumah aja, ya." dan dia bilang gak suka lagi sekolah di Permata Hati.

Gurunya juga bilang bahwa akhir-akhir ini semangat Esha menurun dibanding awal sekolah dulu. Sementara teman-temannya yang dulu susah disuruh duduk diam sekarang mulai lebih tekun. Kemudian, gurunya akan kembali "menyalahkan" usia Esha yang jauh dibawah teman-teman sekelasnya yang jadi penyebab kurangnya kematangan emosinya. Saya sudah tidak mau panjang lebar menjelaskan lagi bahwa kalau di rumah dia baik-baik saja. Selalu semangat belajar, sudah mulai menulis alfabet dan angka, tidak bisa diam, cerewet. Saya juga tidak mau bilang, "Mungkin dia bosan disini, bu." Itu respon yang tidak menyenangkan buat pihak sekolah.

Pikiran ekstrem saya mulai menimbang-nimbang soal homeschooling. Tapi pasti akan banyak pihak yang tidak setuju. Mulai dari kakek-neneknya. Dan saya paling tidak suka berdebat. Jadi, sekarang, yang bisa saya lakukan hanya membuat Esha bertahan sampai masa sekolahnya di Permata Hati selesai tiga bulan lagi sambil mencari tempat belajar yang paling sesuai untuknya mulai awal Agustus nanti.

Friday, January 21, 2011

Maaf, dok. Tidak hari ini.

Mungkin akan terdengar bodoh, tapi saya ibu yang tidak menjadikan dokter sebagai solusi ketika anaknya sakit. Kalau perawatan di rumah masih bisa dilakukan, itu akan jadi pilihan pertama. Mungkin karena selama Esha tinggal di Surabaya dia ke dokter hanya untuk imunisasi, dan dua kali pertemuan karena sakit yang hasilnya sangat tidak menyenangkan buat saya. Maka jadilah saya ibu yang skeptis (mungkin sampai ketemu DSA yang cocok.)

Beruntung sekarang bertukar informasi bukan hal yang sulit. Kalau anak sakit, Google jadi rujukan pertama untuk mencari tahu apa yang ibu-ibu lain lakukan ketika anaknya mengalami hal yang sama. Senangnya banyak ibu-ibu yang juga tidak langsung mencekoki anaknya dengan obat-obatan. Bukankah tubuh manusia sudah diciptakan untuk membangun bentengnya sendiri ketika diserang penyakit sampai ke tingkat tertentu, dimana intervensi dokter dan obat baru diperlukan.

Pengetahuan dasar untuk orangtua semacam; bahwa demam adalah tanda tubuh sedang melawan virus dan biarkan terjadi sampai batas 38 derajat Celcius, bahwa flu disebabkan virus dan tidak dibutuhkan obat (apalagi antibiotik) untuk menyembuhkannya karena tubuh sudah menyediakan penawarnya ketika dibarengi makan, cairan, dan istirahat yang cukup, bahwa bersin dan batuk adalah cara tubuh mengeluarkan benda asing dan tidak harus selalu dianggap sakit - adalah hal-hal yang seharusnya disebarkan supaya orangtua tidak mudah panik saat anaknya sakit. Menemui dokter adalah hal yang harus dilakukan kalau demam berlanjut lebih dari 48 jam, anak kehilangan tenaga atau kesadaran, dan tidak mampu menerima makanan dan cairan yang cukup.

Ketika Esha batuk atau pilek, neneknya akan panik dan segera menyuruh saya membawanya ke dokter. Lalu saya akan lagi dan lagi menjelaskan bahwa perawatan di rumah sudah cukup. Memang kasihan melihat anak sekecil Esha batuk-batuk dan hidungnya meler, tapi memang begitulah cara tubuh mungilnya membantu dia mengeluarkan penyakitnya. Saya biasanya kasih dia minum yang banyak dan obat batuk-pilek (Actifed atau Triaminic). Selama dia bisa beraktivitas seperti biasa dan nafsu makannya tidak menurun drastis, saya masih bisa tenang.

Bukannya saya tidak percaya dokter, tapi saya lebih yakin pada apa yang Tuhan sudah berikan untuk semua orang : tubuh dan segala sistemnya yang luar biasa DAN insting seorang ibu untuk tau kapan ia harus membawa anaknya ke rumah sakit dan kapan rumah adalah tempat perawatan terbaiknya.

Friday, December 31, 2010

akhir tahun ketiga

Saya ingat saat pembagian rapor di SMP, kelas dua, wali kelas saya (yang notabene adalah seorang guru Bahasa Inggris dan orangnya sedikit mbencekno tapi mengagumi saya -mwahahaha-) berpesan pada ibu saya supaya memotivasi saya untuk lebih banyak bermain dan bergaul. Ibu dan saya cuma mentertawakan ide-nya. Beruntunglah saya memiliki ibu yang tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk jadi pribadi yang bukan diri mereka sendiri. Hal yang sama berulang ketika saya mengambil rapor Esha tanggal 24 Desember kemarin. Gurunya bilang Esha adalah anak yang, meskipun tekun dan hampir selalu mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, pendiam dan lebih suka komunikasi personal.

Di kolom konsultasi orangtua di koran langganan, saya beberapa kali membaca surat yang judulnya "jago kandang". Isinya tentang keinginan orangtua untuk memotivasi anaknya untuk lebih berani dan percaya diri di luar rumah ketika bertemu dengan orang-orang baru atau crowd yang besar. Saran sang psikolog anak selalu sama: ajaklah anak untuk lebih sering bertemu dengan kelompok-kelompok yang bukan anggota keluarga tapi tetaplah hargai karakternya selama tidak berkembang menjadi sikap yang negatif.

Saya tidak akan melabeli Esha dengan istilah "jago kandang". Kedengarannya tidak enak meskipun untuk beberapa orang mungkin lucu. Pendiam, introvert, personal bukan karakter yang buruk, menurut saya, selama dia tidak berubah jadi murung dan berhenti berkomunikasi dan/atau berbagi emosi dengan ayah dan ibunya. Saya tidak akan memaksanya untuk jadi hingar bingar diluar rumah kalau memang dia tidak nyaman dengan kondisi itu. Karena saya sangat tau seperti apa rasanya tidak ingin membangun lingkaran pertemanan yang besar atau berbicara di tempat-tempat yang tidak click.

Akhir tahun ini Esha memulai tahun keempatnya. Dia mulai membangun karakternya dan tanggung jawab kami sebagai ayah dan ibunya semakin besar. Esha mulai pandai berargumen, menolak dengan keras, dan tau fakta apa yang masuk akal. Saya tidak bisa lagi menyodorkan alasan-alasan konyol untuk membuat dia mau melakukan kewajibannya karena dia akan tau saya berbohong. Sangat memalukan, kan? Kami harus logis tapi tetap tenang saat dia mulai jadi rebel. Harus tegas tapi tidak keras jika dia mulai meminta yang tidak mungkin.
Kami harus kuat, sabar, dan bijaksana.

Esha sudah semakin besar sekarang. Sebentar lagi dia akan punya pendiriannya sendiri dan kalau kami tidak tetap membuatnya dekat dan percaya, mungkin dia akan melakukan sendiri apa yang menurutnya benar.

Semoga Tuhan selalu menjaga keluarga kami.

Thursday, October 21, 2010

orangtua yang istimewa untuk anak-anak istimewa

ketika saya mulai mengeluh "capek." dengan segala kegiatan harian; mulai dari mengurus Esha sampai pekerjaan rumah yang kadang-kadang bisa berjejalan penuh sampai badan tidak berhenti bergerak, seharusnya saya bercermin pada teman-teman saya yang juga sudah menjadi ibu dan -terlebih lagi- dikaruniai anak-anak yang istimewa.

kami sering mengobrol lewat e-mail dan comments di facebook, dan saya jadi pengikut setia status-status mereka ketika mengantarkan anaknya terapi dan pulangnya masih harus melakukan pekerjaan rumah sambil mengurus usaha online lalu harus rajin melatih anak-anak mereka di rumah kemudian dengan giat mengikuti berbagai seminar untuk bisa jadi guru terbaik buat anak-anak mereka. hampir tidak ada waktu untuk diri mereka sendiri dan apa pernah mereka berteriak "aku capeeeek!" di status? tidak. kalau mulai diserbu rasa putus asa, yang mereka bilang adalah, "terimakasih Tuhan, aku masih diingatkan untuk selalu sabar, bersyukur, dan ikhlas." dibandingkan mereka, apa yang saya jalani setiap hari jauuuuh lebih ringan.

sambil bersyukur dalam-dalam, saya cuma bisa menyemangati mereka dari jauh. apa saya bisa sekuat mereka kalau ada di posisi yang sama? sementara dikasih "capek" sedikit saja sudah cemberut dan uring-uringan. memang Tuhan Maha Adil, semua dapat porsinya masing-masing. porsi yang paling pas. Dia Maha Tahu kekuatan setiap ibu di dunia ini, dan untuk setiap dari mereka dititipkanlah anak-anak yang paling sempurna untuk kadar mereka. lalu kenapa saya masih sering lupa bersyukur? :'(

tapi, buat saya - selalu -, semua ibu tidak harus selalu jadi kuat atau dilarang menunjukkan emosinya. it's alright to be human. sometimes.

Tuesday, October 19, 2010

my sleeping child

"You're my sleeping child. The world's so wild, but you've built your own paradise..."



mari kita awali dengan lagu ini :D
saya sangat menikmati momen melihat Esha sedang tidur. meskipun saya sudah melihatnya sejak dia baru lahir, mulai dari inkubator sampai sekarang sudah memenuhi seperempat kasur ukuran queen, melihatnya tidur nyenyak adalah hal yang sangat menenangkan. betapapun bandelnya dia hari itu dan semarah apapun saya padanya, ketika melihat dia sudah terlelap, semua jengkel dan kesal menguap begitu saja. bahkan, kadang-kadang saya menangis saat lihat dia tertidur setelah saya omeli. begitu innocent dan membuat saya tertampar karena sudah jadi ibu yang grumpy dan tidak sabaran. she doesn't have to do or say anything more than just to sleep tight to kill my negative self.

saya yakin semua ibu juga merasakan hal yang sama saat melihat anak mereka tidur nyenyak. lega, tenang... berharap sakit, demam, nyamuk, mimpi buruk, dan hal buruk apapun tidak pernah membuat mereka gelisah sepanjang malam atau bahkan tidak bisa tidur samasekali.

ketika Esha tidur nyenyak, saya bisa mengalir di nafasnya yang tenang teratur. dua matanya yang terkatup membuat wajah mungilnya semakin cantik. saya biasa mengusap-usap keningnya dan menciumi pipinya pelan-pelan. anak-anak yang tertidur mengeluarkan aroma yang begitu enak yang tidak ada duanya.

dan, salah satu tanda anak bergizi baik adalah tidur selalu nyenyak :)

Tuesday, July 20, 2010

Minggu Pertama Esha di Sekolah

Tiga kali pertemuan (Esha sekolahnya cuma 3 kali seminggu, memang :D ) dan masih minta ditemani di kelas. Jadi murid paling muda dan paling mirip bayi mungkin menguntungkan dan tidak pada saat bersamaan.


Hari pertama (13 Juli 2010)

Waktu semua anak-anak harus baris di depan kelas, Esha malah nangis dan minta digendong. Begitu banyak orang, banyak ibu-ibu. Crowded kayak di pasar, huehehehe, dan masih separo anak di kelasnya masih minta ditemani. Terbayang kan gimana padat merayapnya kelas Melati hari itu? Suara anak-anak nangis, jerit-jerit rebutan mainan, dan dua orang guru di kelas rasanya jauh dari memadai untuk situasi macam itu. Yang paling menjengkelkan, ada anak laki-laki berbadan besar yang tangannya ringan macam bulu; pukul, dorong, cubit, jambak. Lengkap. Esha yang mungil begitu juga jadi korbannya. Untung saya masih menemaninya, jadi bisa buru-buru saya peluk. Gurunya terlalu sibuk menurunkan anak-anak yang naik ke meja, mengeluarkan mereka yang masuk ke kotak bola-bola dan seolah sedang di taman ria, melerai anak yang berebut puzzle... Ya Tuhan. Energi dan emosi mereka pasti terkuras habis hari itu. Saya sangat mengerti. Tapi saya tetap mengharapkan kontrol yang lebih baik dari mereka. Seharusnya satu orang guru bisa berdiri di depan kelas, membawa alat musik atau boneka tangan dan mencoba memusatkan perhatian anak-anak padanya dan bukannya duduk di satu sisi kelas dan terus mengajarkan doa ke doa (Al-Fatihah, doa mau belajar, doa mau makan, doa selesai makan, doa mau pulang, doa naik kendaraan.) Sembilan puluh menit pertama sangat tidak efektif jadinya. Bukannya saya bilang mengajarkan berdoa itu tidak perlu, tapi sepertinya harus diterapkan cara yang lain supaya anak-anak tertarik dan mau mendengarkan.
Sepanjang hari itu Esha duduk merapat pada saya tapi syukurlah dia kemudian mau bersalaman dengan gurunya di akhir kelas dan mengambil bintang kertas dari depan kelas.

Hari kedua (15 Juli 2010)

Overall, semuanya membaik. Dia mau ikut berbaris meskipun masih harus nempel ke saya karena ketakutan lihat ada Vino (si tangan bulu) di sebelahnya. Di kelas dia mulai mau berbaur dengan teman-temannya, dan saya senang sekali karena mereka pintar-pintar (sudah mengenal warna, bentuk, lihai menyusun puzzle) dan yang paling penting Esha bisa lihat contoh dari mereka untuk berani memperkenalkan diri di depan kelas. Pulangnya dia sudah mau berbaris sendiri dan minta cap tangan dari gurunya.
Hari yang sama, begitu banyak orangtua yang bertanya pada saya berapa usia Esha. Mungkin karena dia kelihatan belum cukup umur untuk sekolah :D

Hari ketiga (17 Juli 2010)

Hari Sabtu, ayahnya libur dan ikut mengantar ke sekolah. Saya berharap dia jadi lebih semangat dan antusias menunjukkan ini dan itu pada ayahnya. Ternyata, dia malah melempem. Bahkan mogok di depan gerbang. Waktu berbaris dia menangis lagi dan minta pulang. Tapi setelah saya bujuk-bujuk, dia akhirnya mau masuk kelas dan meletakkan tasnya sendiri di rak. Hari itu menyenangkan buat dia karena sudah mulai ada lagu dan permainan di kelas dimana dia dengan gembiranya ikut berpartisipasi.
Tugas saya sekarang adalah membantunya untuk percaya pada dua gurunya dan berani untuk melepaskan diri dari saya pelan-pelan. Tentunya dengan catatan bahwa gurunya juga harus terus mengawasi Vino yang sudah jadi ancaman buat semua orangtua murid kelas Melati. What's wrong with the boy? Kenapa ibunya diam saja melihat anaknya begitu ringan tangan dan bolak-balik ditegur? It's none of my business but will surely be if he ever touches my daughter again.

Secara pribadi, saya sangat ingin bicara dengan guru kelas Esha dan berbagi pikiran tentang cara mengajar. Kurikulum sekolahnya seharusnya bagus, tapi kalau eksekutor-nya tidak, lalu apa gunanya? Saya tau betul seperti apa anak-anak yang baru pertama kali masuk ke lingkungan sekolah. Mengharapkan mereka bisa langsung mandiri dan menurut akan jadi terlalu melambung. Hari-hari pertama seharusnya adalah kesempatan untuk membangun kepercayaan antara murid-guru-orangtua. Icebreaking sangat perlu di saat-saat awal. Seharusnya ada momen intim, tenang, dan hangat. Membaca dongeng, roleplaying menggunakan boneka, dan terus menerus menyebutkan nama tiap anak bergantian seharusnya cukup untuk itu. Guru-guru Esha kelihatannya terlalu terpaku pada teks, kebiasaan, dan pakem yang mungkin sudah mereka lakukan bertahun-tahun.
Mungkin saya yang terlalu idealis? Terlalu protektif terhadap Esha?
Tetap saja, saya sangat ingin bicara dengan guru-gurunya. Tiap tahun anak-anak semakin pintar dan pasti selalu berbeda. Seharusnya perubahan di kelas juga layak diterapkan.


Friday, June 11, 2010

sore itu...

... waktu saya dan suami sedang ngobrol tentang sekolah formal dan jam kerja, saya bilang, "wuahh... untung udah gak dikejar-kejar waktu dan jam. everyday's like sunday :D"

dan suami saya bilang, "nggak sadar ya kalau jadi ibu justru gak ada liburnya?"

Tuesday, February 16, 2010

thought of the moment

When your children are being difficult or rebellious or won't be told, don't ever feel like giving up or turning your back on them. Because it's when they need you the most, and events like these will make the bond between mother-children even stronger and more unbreakable. So, stay and let them calm in your arms and you'll know that they just need you more than usual and, no matter how peculiar the way is, that's how they channel it out to you.

Monday, January 18, 2010

a broken-hearted mom

i miss my breastfeeding moments with Esha. the way her eyes stared into mine and her little fingers rustling my shirt while i held her so close to me. i even remember it when she had fever and i could feel her burning lips on my chest and that we both knew only the milk could put her at ease.

i miss her.

she's grown so much and after the weaning she seems to look for his dad for comfort rather than for me. then i've become a sentimental woman thinking that her baby girl doesn't need her anymore. of course everyone will say it's not true. but my heart won't be told. not now.

i wish i didn't have to be so emotional about all this and cry my heart out. but i can't. i miss her too much...

Wednesday, February 4, 2009

big gift from a petite package


Saya hampir memasuki bulan ke-14 menjadi ibu, dan ini baru awal.

Ayesha lahir tanggal 19 Desember 2007, dengan berat 2,4 kg dan panjang 47 cm. Bayi yang kecil. Dia langsung masuk inkubator waktu itu, dan lima hari pertama sangat berat buat saya dan ayahnya karena kami cuma bisa menyentuh dia sekali sehari saat dia diperbolehkan keluar dari inkubator untuk minum ASI langsung. Sisanya, kami cuma bisa liat dia dari luar jendela kamar bayi sambil mengantar ASI perahan. Sedih.

Begitu dia pulang, sebanyak mungkin dia saya beri ASI dan pelukan. Box-nya selalu diterangi lampu kuning (in a way, lucu... seperti anak ayam). Alhamdulillah saya bisa kasih dia ASIX enam bulan dan selama itu juga kenaikan berat badan dan kesehatannya sangat menggembirakan.

Sekarang dia sudah mulai jadi gadis kecil. Tumbuh pintar dan aktif.
Mudah-mudahan saya bisa jadi pembimbing yang baik buat dia sampai akhir.

Selamat menikmati perjalanan Esha, ayah, dan ibu disini ya :)
Untuk parents yang lain, please kindly share ilmunya dengan kami :D

Cheers!

Before you were conceived I wanted you
Before you were born I loved you

Before you were here an hour I would die for you

This is the miracle of life.

[Maureen Hawkins]

Halaman-halaman Lain...

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir