Pertengahan tahun sepertinya jadi titik rendah kesehatan Esha. Tahun lalu dia kena combo campak dan cacar, tahun ini giliran Roseola.
Minggu lalu, hari Selasa siang, tiba-tiba Esha demam waktu tidur siang. Saya temp, sampai 38°C. Tapi tidurnya nyenyak dan waktu bangun pun dia gak kelihatan sakit. Jadi saya biarkan tubuhnya berperang dulu sebelum saya kasih dia penurun panas. Makan tetap banyak, aktif seperti biasa. Malamnya panasnya makin tinggi (saya bersyukur Esha punya ambang demam yang tinggi jadi tubuhnya kuat melawan virus di suhu tinggi) jadi saya kompres dan kasih parasetamol. Alhamdulillah sebentar kemudian panasnya turun. Tapi sampai Kamis pagi demamnya naik-turun di kisaran 38-39,5°C. Sepanjang itu pula dia gak tampak sakit. Saya bersikeras untuk gak bawa dia ke dokter karena sebelum 72 jam hasil lab gak bisa dipakai untuk menegakkan diagnosa, lagipula Esha baik-baik saja. Dia cuma mengeluh matanya panas. Saya pikir itu karena dia demam saja.
Jum'at dia masuk sekolah lagi. Saya yakin dia sudah sembuh. Demamnya tidak kembali lagi. Dia cuma bilang perutnya agak kembung. Sabtu, pulang sekolah, matanya agak bengkak dan sorenya muncullah bercak-bercak merah persis campak di dada dan punggungnya. Langsunglah saya tau dia kena Roseola. Bercaknya bertahan dua hari. Menyebar ke leher dan muka tapi berangsur hilang.
Apa itu Roseola Infantum?
Ini penyakit yang sangat umum pada anak-anak. Disebabkan virus yang masih satu keluarga dengan herpes, campak, dan cacar. Tapi Roseola ini sangat ringan dan sebenarnya tidak perlu perawatan khusus (menjelaskan ciri khas-nya yang tidak memperlihatkan tanda sakit pada anak walau demamnya tinggi.) Umumnya menyerang anak umur 6 bulan sampai 3 tahun. Tapi bisa juga saat anak sudah masuk usia sekolah seperti Esha.
Penularannya lewat udara, liur, bersin, batuk. Masa inkubasi-nya dua minggu.
Gejala awalnya adalah demam yang mendadak tinggi selama 2 sampai 3 hari. Pada kebanyakan kasus, pada fase ini anak tidak tampak sakit. Tapi bila daya tahan tubuhnya lemah mungkin menunjukkan tanda khas infeksi virus seperti meler, batuk, badan linu. Hanya sedikit anak yang sampai terkena kejang saat demam Roseola. Ini sebabnya fase demam harus diawasi dengan pemberian obat turun panas, kompres hangat, dan minum yang banyak. Saat terjadi demam ini pula masa penularan berlangsung.
Setelah tiga hari, demam berhenti. Kemudian muncullah bercak merah yang lebar dan pudar bila ditekan. Kadang timbul dan dikelilingi garis putih. Ini yang membedakan Roseola dari campak yang mengeluarkan bercak justru saat demam sedang tinggi. Bercak ini adalah saat virus sudah tidak aktif. Tidak ada lagi penularan. Umumnya bercak Roseola tidak mengganggu anak tapi bisa disertai gangguan pencernaan, nafsu makan menurun, dan mata bengkak.
Saat bercak muncul dan demam hilang, bila anak tetap aktif, dia sebetulnya sudah boleh keluar rumah atau bahkan masuk sekolah. Tapi orang-orang pasti freak out karena bercaknya lumayan tampak parah meskipun sebenarnya si anak sehat. Jangan panik karena paling lama cuma berlangsung tiga hari.
Anak yang sudah terinfeksi Roseola berarti sudah imun dan tidak akan terinfeksi lagi meskipun sedikit kasus menunjukkan pengulangan saat dewasa.
Jadi, moms, jangan panik duluan kalo anaknya demam. Kasih waktu untuk antibodinya melawan si kuman. Jangan buru-buru bawa ke dokter sebelum 72 jam (kalo gak mau dikasih antibiotik radang tenggorokan :p) dan kalau ternyata penjahatnya adalah virus, tidak ada obat -apalagi antibiotik- yang ampuh kecuali antibodi si anak sendiri yang harus di-boost lewat makanan, air putih, jus, vitamin c, dan istirahat.
Semoga bermanfaat ya, moms :)
Monday, June 11, 2012
Roseola Infantum
Posted by bu anis at 12:56 AM 6 comments
Labels: balita, demam, parenting, roseola, roseola infantum, sakit
Sunday, July 24, 2011
Perawatan di rumah saat anak cacar air
Dear Moms,
Mudah-mudahan pengalaman yang saya share ini lumayan bisa membantu dan menenangkan bila si kecil (mudah-mudahan jangan sampe) terkena cacar air. Tidak perlu panik dan kuatir, ini penyakit yang umum untuk anak-anak dan termasuk self-limiting disease, yang artinya dia akan sembuh sendiri dengan bantuan antibodi si anak karena virus tidak bisa dikalahkan dengan obat. Tapi, bukan berarti cacar penyakit ringan, karena ciri khas infeksi virus adalah demam, lemas, nyeri otot, dan gangguan saluran nafas. Gangguan-gangguan ini yang membutuhkan perhatian yang, bila tidak ditangani dengan tepat, bisa menimbulkan komplikasi.
Pada cacar air, demam dan nyeri otot bisa hadir atau tidak. Jika iya, berikan paracetamol untuk meredakannya dan membantu anak istirahat lebih nyaman. Saat bintil berairnya mulai muncul, sebaiknya periksakan ke dokter untuk memastikan itu memang cacar. Sebisa mungkin, saat di ruang tunggu dokter, jauhkan ia dari anak-anak lain untuk mencegah penularan karena virus cacar mudah berpindah lewat nafas dan udara (airborne). Dokter kemudian akan memeriksa apakah ada radang atau penyakit lain yang muncul setelah dipicu virus campak, jika ada akan diresepkan obat untuk itu. Jika tidak ada, biasanya akan diresepkan obat racikan antiviral dan obat oles. Yang harus diingat, obat-obat ini tidak untuk menyembuhkan tapi hanya mengurangi aktivitas virus. Tanyakan juga apa bedak yang aman untuk mengurangi gatalnya (ada dokter yang mungkin menyarankan minum antihistamin, tapi kasian kalo terlalu banyak minum obat ;p), untuk Esha saya pakai bedak salicyl menthol ada juga yang pakai caladine dan lotion calamine.
Setelah sampai di rumah, pastikan si kecil menempati kamar sendiri, jangan dekat-dekat anggota keluarga yang belum pernah terkena cacar terutama kalau ada bayi atau ibu hamil. Masa menular ini berlangsung sejak bintil pertama muncul sampai semuanya mengering dan rontok. Selama itu si kecil sebaiknya 'diisolasi'. Pisahkan peralatan makan dan mandinya. Ganti seprai setiap hari, atau untuk praktisnya gunakan alas (flanel atau jarit) yang lebih mudah diganti dan dicuci.
Kebersihan harus selalu dijaga. Orang-orang jaman dulu bilang anak cacar tidak boleh dimandikan, padahal kulit harus selalu bersih dan kering. Saat bintil pecah dan serum kena kulit yang bersih, itu akan jadi bintil baru. Jadi pastikan si kecil mandi dengan cairan antiseptik (dettol atau PK), keringkan lembut dengan menepuk-nepukkan anduk, lalu kenakan pakaian yang longgar supaya tidak banyak gesekan. Kamar sebaiknya berventilasi baik dan tidak pengap atau gerah untuk mencegah si kecil berkeringat yang bisa membuat kulitnya makin gatal.
Jangan sampai si kecil menggaruk-garuk bintilnya karena bisa menyebabkan infeksi dan bekas yang dalam. Pastikan tangannya bersih dan kukunya pendek. Rajin-rajin ingatkan dia untuk tidak menggaruk atau mengelupas bekas lukanya, bantu dia mengusap-usap daerah yang gatal di punggung dan tempat-tempat yang tidak bisa dia lihat karena kemungkinan akan dia garuk lebih keras.
Yang paling penting, pastikan si kecil mendapat asupan gizi yang cukup untuk membantunya meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan si virus jahat. Beri buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C, atau bisa juga dalam bentuk plasebo (pengganti) seperti suplemen. Sekarang juga sudah banyak pengobatan homeopathic atau pengobatan tradisional yang bisa dibuat di rumah. Kebanyakan mengandung herbal. Ada yang menyarankan jintan hitam, atau berendam di air dingin yang dicampur jahe atau oatmeal untuk mengurangi gatal. Untuk menghilangkan bekas-bekas cacar, katanya parutan jagung muda cukup efektif.
Semoga bermanfaat ya, moms. Ingat untuk tetap tenang dan kuat. Semangati dan bacakan doa untuk si kecil supaya dia cepat sembuh :)
Posted by bu anis at 1:56 PM 2 comments
Labels: anak cacar, cacar, homeopathy, parenting, perawatan cacar
It's A Combo Hit!
Ini adalah masa sakit terpanjang seumur hidup Esha. Campak dan cacar air beruntun. Mudah-mudahan dia semakin kuat dan belajar sabar dari sakitnya ini.
Awalnya dua minggu yang lalu, hari Senin (11/7) pulang sekolah dia mulai bersin-bersin dan meler. Ingusnya cair dan bening. Selasa malam, dia demam dan panasnya langsung tinggi, sampai 40'C. Takut kejang, saya kompres dan kasih paracetamol. Sepanjang malam itu dia tidur nyenyak. Rabu pagi, panasnya turun dan dia juga udah ceria lagi dan bisa main-main seperti biasa. Nafsu makannya pun baik-baik saja. Kamis, demamnya datang lagi dan di kaki dan tangannya mulai muncul bintik-bintik merah. Saya coba tekan kulitnya dan ruamnya hilang. Agak tenang karena sepertinya bukan demam berdarah, lagipula demamnya tidak terus menerus tapi naik-turun. Sempat curiga itu Roseola, tapi kok bintiknya muncul berbarengan dengan demam. Jadi hari itu juga kami bawa Esha ke dokter. Karena dia sangat-sangat jarang ke dokter (terakhir adalah Agustus tahun lalu waktu dia muntah-muntah karena gangguan pencernaan), maka mengamuklah dia di ruang periksa. Ayahnya, suster, dan saya harus 'melumpuhkan' dia supaya bisa diperiksa. Tapi tetap saja kami kalah (iya, tenaga Esha memang LUAR biasa), akhirnya cuma di-check sekilas gitu aja dan diagnosa-nya radang tenggorokan.
Saya tanya : kenapa ingusnya cair dan meler terus?
Dokter bilang : karena terhubungnya THT
Saya tanya : kenapa muncul bintik-bintik?
Dokter bilang : efek dari demam tinggi beberapa hari lalu.
Dikasihlah antibiotik Longcef (Indikasi: Infeksi saluran nafas, kulit, dan jaringan lunak). Duh, kalo udah pake antibiotik gini paling gak suka. Tapi liat Esha batuk-batuk dan makin lemes, sepertinya itu yang terbaik. Kurang sreg karena pemeriksaannya sekilas banget (ya, saya memang ibu yang skeptis dan baru puas kalo udah ngobrol panjang lebar sama dokternya).
Jumat, demam masih naik-turun dan ruam merah mulai muncul di lengan, paha, muka. Matanya super sayu dan merah (ciri khas campak). Ruam di sekeliling matanya bikin dia keliatan sakit banget. Ah, sudah... ini sih campak. Alhamdulillah dia masih mau makan dikit-dikit pagi itu.
Campak
Penyebab: Paramyxovirus
Gejala : demam, sakit tenggorokan, hidung meler, kunjungtivitis (peradangan selaput ikat mata), bercak koplik di mulut, nyeri otot, dan ruam kulit. Gejala-gejala ini sangat khas sehingga tiap orang tua pasti akan tau anaknya kena campak jika ini terjadi.
Sabtu, ruamnya makin banyak. Masa keluarnya semua ruam ini yang paling menyiksa. Si anak akan kelihatan sangat sakit dan lemah. Esha sendiri betul-betul gak berdaya. Banyak tidur dan samasekali gak keluar kamar. Susah banget makannya cuma mau air putih. Susu yang biasanya bisa habis 750cc tiap hari cuma masuk seperempatnya aja. Akhirnya harus saya paksa-paksa buat makan, soalnya penyakit viral gini kan obatnya cuma antibodi. Kalo badan gak dikasih asupan gizi yang cukup, bahaya. Apalagi komplikasi dari campak lumayan bikin stress : bronkhitis, pneumonia (yang seringkali berujung kematian *glek*), dan ensefalitis (radang otak). Jadilah saya paksa dia makan dan susu-nya saya campur GiziKita.
Minggu, demam turun dan gak naik lagi. Alhamdulillah. Ruam udah full, kasian banget liatnya. Dia mulai mau makan dan ngemil. Susu juga mulai banyak lagi. Mulai cerewet-cerewet lagi, mewarnai, dan lompat-lompat di kasur padahal badan baru enakan dikit -_-"
Senin, no more demam dan meler. Makan mulai banyak. Dia udah keluar kamar dan bisa beraktivitas. Tapi di keningnya muncul bintil yang isinya air. Apa nih? Baru juga pikiran tenang dikit, udah ada lagi yang lain. Duh, Gusti... tiap hari googling teruuuusss, dan kali itu saya gak nemu jawabannya (ha! there are actually things Google can't tell :p). Cuma satu-dua kasus yang bilang setelah campak muncul bintil air. Itupun penjelasannya gak mumpuni, bisa dibilang cuma kebetulan-kebetulan. Hari yang sama, bintilnya juga muncul di pantat dan kaki. Waduh. Saat itu saya pikir itu cuma bawaan campak aja (which is sebenernya gak mungkin). Apakah infeksi? Tapi kok bintilnya besar, sekelilingnya gak merah atau bengkak, dan serum (air di dalam bintil)nya jernih. Kalo infeksi pasti bernanah dan merah. Oke, tidak perlu ke dokter. Toh Esha juga sehat-sehat aja, gak ada demam susulan atau apapun. Dia bener-bener seperti hari-hari biasa.
Selasa sampai Kamis, ruam mulai pudar tapi bintil air bermunculan di tempat-tempat lain. Semakin gak tenang. Apalagi waktu bintilnya pecah dia bisa nangis banget sambi bilang "sakit... sakit..." huaaa... gak tega liatnya :( Susah banget dimandiin, tapi dia harus selalu bersih. Jadi kembalilah saya 'jahat' dan paksa dia buat mandi. Esha tuh paling gak bisa ditipu-tipu dan untuk membujuk dia butuh waktu panjang (yang saya gak bisa lakukan karena saya super tidak sabaran orangnya, beda sama si ayah...). Akhirnya dia mau mandi pake air campur Dettol dan keramas juga sambil sesekali dia atur-atur nafas kayak orang mau melahirkan. Buat mengontrol diri dan ngurangin sakit, kali ya. Pengen banget segera ke dokter, tapi kalo nanti Esha ngamuk lagi dan pemeriksaan gak tuntas terus cuma dapet diagnosa yang gak memuaskan plus obat yang gak perlu kan percuma. Aduuuuhhh...
Jumat, saya dan ayah memutuskan dia harus ke dokter buat mastiin kenapa bintilnya makin banyak. Jadi sejak pagi saya udah bujuk dia. Pokoknya ngomong udah panjang lebar lah sama dia. Oke, dia bilang, mau dokter dengan syarat si dokter atau suster gak boleh pegang dia samasekali. Saya bilang, "Oke. Nanti ibu bilang ke dokternya." Setelah baca-baca di internet, saya putuskan coba dulu pake krim Acyclovir buat bintil-bintilnya.
Sabtu, ke dokter. Dia samasekali gak lemes atau apa. Biasa aja gitu. Kecuali bahwa badan dan mukanya masih dihiasi sisa ruam dan bintil-bintil yang sebagian besar sudah pecah dan jadi lecet-lecet. Waktu nungguin masuk ruang dokter, saya udah deg-degan duluan ngeliatin nomer di atas pintu berubah menjelang nomer 17. Begitu giliran Esha, dia langsung digendong ayah dan gak dilepasin selama di ruang dokter. Si dr. Prastya-nya pun udah siap karena pengalaman sebelum itu. "Nggak dipegang kok, periksa jarak jauh aja." Saya jelasin dari A sampe Z apa yang terjadi sejak kunjungan terakhir itu, terus dikasih liat bintil-bintilnya.
Dokter bilang : "Cacar air ini, bu.. Waw, sudah banyak dan besar-besar."
Saya bilang : "Kalo pas pecah gitu dia sampe kesakitan banget, dok."
Dokter bilang : "Iya, itu karena sudah jadi krusta. Kalo digaruk bisa bernanah dan infeksi."
Saya bilang : "Dua minggu lalu ayahnya kena Herpes."
Dokter bilang : "Nah iya, memang masih berhubungan itu."
Obatnya puyer buat virusnya (tapi manis! karena puyer sekarang dicampur glukosa), dan antibiotik Dexyclav (indikasi: infeksi yang disebabkan bakteri, termasuk -pada kasus Esha- jaringan lunak dan kulit). Krim Acyclovir-nya masih terus dipake, oles 5 kali sehari (dioles sekali aja udah susah bener, apalagi 5 kali? -_-" grant us strength and ease, dear God).
Semuanya baik-baik saja. Esha makan, minum susu, ngobrol seperti biasa tapi rasa gatal dan perih-nya yang sangat 'melumpuhkan'. Dia jadi sibuk garuk-garuk diiringi seruan saya dan ayahnya "Esha, stop! Esha, jangan! Esha, nanti luka dan infeksi!", terus kalo pas perihnya dateng dia udah males ngapa-ngapain. Baringan aja sambil nonton film kartun sambil minta dikipasin. Memandikan dan olesin obatnya juga jadi tantangan buat ayah-ibunya :(
Saya percaya semuanya akan berakhir baik. Kasarnya, lebih baik dihajar abis-abisan di awal tapi menang di akhir. Habis ini, Insya Allah ga kena sakit-sakit 'wajib' macam begini lagi. Tinggal jaga daya tahan tubuhnya aja dan belajar jauh lebih sabar buat ajarin dia untuk sabar menghadapi sakitnya. Two viruses in a row! Phew. Saya dulu kena campak umur 3 tahun, dan cacar waktu kelas 6 SD. Ayahnya kena cacar waktu SMA kelas 1. Nah Esha? Luar biasa. Tuhan tau cara terbaik buat bagi-bagi rejeki dan ujian. Semua dapet takarannya masing-masing yang paling pas dan cocok. Jadi saya yakin Esha memang kuat buat semua ini. Yang saya sesali cuma, kenapa waktu ayahnya Herpes kok saya gak betul-betul menjauhkan Esha dari dia. Ya sudahlah.
Jadi, ibu-ibu yang anaknya belum kena cacar air, virus Varicella-Zoster ini penyebab cacar yang setelah sembuh akan tetap 'sembunyi' di ganglion untuk kemudian bisa 'bangun' lagi jadi Herpes Zoster ketika daya tahan tubuh seseorang menurun ditambah stress, kurang nutrisi, dan lain-lain. Nah, kalau anak dekat-dekat penderita Herpes, kemungkinannya akan jadi cacar air.
Jangan lalai imunisasi ya, bu. Esha sudah imunisasi campak waktu umur 9 bulan, dan MMR (Measles, Mumps, Rubella) umur 15 bulan. Ketika umurnya bertambah, efektivitas vaksinnya akan menurun dan harus diulang waktu umur 4 tahun. Kalaupun kena setelah imunisasi, tidak akan terlalu parah sakitnya.
Mudah-mudahan kita semua selalu sehat dan yang sakit cepat sembuh :)
Friday, December 31, 2010
akhir tahun ketiga
Saya ingat saat pembagian rapor di SMP, kelas dua, wali kelas saya (yang notabene adalah seorang guru Bahasa Inggris dan orangnya sedikit mbencekno tapi mengagumi saya -mwahahaha-) berpesan pada ibu saya supaya memotivasi saya untuk lebih banyak bermain dan bergaul. Ibu dan saya cuma mentertawakan ide-nya. Beruntunglah saya memiliki ibu yang tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk jadi pribadi yang bukan diri mereka sendiri. Hal yang sama berulang ketika saya mengambil rapor Esha tanggal 24 Desember kemarin. Gurunya bilang Esha adalah anak yang, meskipun tekun dan hampir selalu mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, pendiam dan lebih suka komunikasi personal.
Di kolom konsultasi orangtua di koran langganan, saya beberapa kali membaca surat yang judulnya "jago kandang". Isinya tentang keinginan orangtua untuk memotivasi anaknya untuk lebih berani dan percaya diri di luar rumah ketika bertemu dengan orang-orang baru atau crowd yang besar. Saran sang psikolog anak selalu sama: ajaklah anak untuk lebih sering bertemu dengan kelompok-kelompok yang bukan anggota keluarga tapi tetaplah hargai karakternya selama tidak berkembang menjadi sikap yang negatif.
Saya tidak akan melabeli Esha dengan istilah "jago kandang". Kedengarannya tidak enak meskipun untuk beberapa orang mungkin lucu. Pendiam, introvert, personal bukan karakter yang buruk, menurut saya, selama dia tidak berubah jadi murung dan berhenti berkomunikasi dan/atau berbagi emosi dengan ayah dan ibunya. Saya tidak akan memaksanya untuk jadi hingar bingar diluar rumah kalau memang dia tidak nyaman dengan kondisi itu. Karena saya sangat tau seperti apa rasanya tidak ingin membangun lingkaran pertemanan yang besar atau berbicara di tempat-tempat yang tidak click.
Akhir tahun ini Esha memulai tahun keempatnya. Dia mulai membangun karakternya dan tanggung jawab kami sebagai ayah dan ibunya semakin besar. Esha mulai pandai berargumen, menolak dengan keras, dan tau fakta apa yang masuk akal. Saya tidak bisa lagi menyodorkan alasan-alasan konyol untuk membuat dia mau melakukan kewajibannya karena dia akan tau saya berbohong. Sangat memalukan, kan? Kami harus logis tapi tetap tenang saat dia mulai jadi rebel. Harus tegas tapi tidak keras jika dia mulai meminta yang tidak mungkin.
Kami harus kuat, sabar, dan bijaksana.
Esha sudah semakin besar sekarang. Sebentar lagi dia akan punya pendiriannya sendiri dan kalau kami tidak tetap membuatnya dekat dan percaya, mungkin dia akan melakukan sendiri apa yang menurutnya benar.
Semoga Tuhan selalu menjaga keluarga kami.
Posted by bu anis at 2:59 PM 0 comments
Labels: esha's progress, ibu, parenting
Tuesday, December 28, 2010
"batita" no more...
She's three years old now. Smarter, more complex, a better speaker, a faster thinker... Am trying not to worry too much about the changes in her emotion (been very cranky since her birthday) and to keep taking it as a 'bridge' to her new age. A transition.
Yes, she's training me to be a wiser and more patient parent. Thank God.
Posted by bu anis at 12:33 AM 0 comments
Labels: esha's progress, parenting
Thursday, October 21, 2010
orangtua yang istimewa untuk anak-anak istimewa
ketika saya mulai mengeluh "capek." dengan segala kegiatan harian; mulai dari mengurus Esha sampai pekerjaan rumah yang kadang-kadang bisa berjejalan penuh sampai badan tidak berhenti bergerak, seharusnya saya bercermin pada teman-teman saya yang juga sudah menjadi ibu dan -terlebih lagi- dikaruniai anak-anak yang istimewa.
kami sering mengobrol lewat e-mail dan comments di facebook, dan saya jadi pengikut setia status-status mereka ketika mengantarkan anaknya terapi dan pulangnya masih harus melakukan pekerjaan rumah sambil mengurus usaha online lalu harus rajin melatih anak-anak mereka di rumah kemudian dengan giat mengikuti berbagai seminar untuk bisa jadi guru terbaik buat anak-anak mereka. hampir tidak ada waktu untuk diri mereka sendiri dan apa pernah mereka berteriak "aku capeeeek!" di status? tidak. kalau mulai diserbu rasa putus asa, yang mereka bilang adalah, "terimakasih Tuhan, aku masih diingatkan untuk selalu sabar, bersyukur, dan ikhlas." dibandingkan mereka, apa yang saya jalani setiap hari jauuuuh lebih ringan.
sambil bersyukur dalam-dalam, saya cuma bisa menyemangati mereka dari jauh. apa saya bisa sekuat mereka kalau ada di posisi yang sama? sementara dikasih "capek" sedikit saja sudah cemberut dan uring-uringan. memang Tuhan Maha Adil, semua dapat porsinya masing-masing. porsi yang paling pas. Dia Maha Tahu kekuatan setiap ibu di dunia ini, dan untuk setiap dari mereka dititipkanlah anak-anak yang paling sempurna untuk kadar mereka. lalu kenapa saya masih sering lupa bersyukur? :'(
Posted by bu anis at 3:24 PM 0 comments
Saturday, August 7, 2010
cerita tentang Vometa dan si 'S'
Seminggu yang lalu, tepatnya Minggu sore, Esha tiba-tiba muntah setelah maghrib. Awalnya saya pikir dia cuma masuk angin karena sempat ketiduran dekat kipas angin dan sebelumnya dia baik-baik saja. Ternyata sesudah itu dia muntah lagi dan lagi setiap perutnya diisi. Bahkan beberapa teguk teh manis pun bikin dia mual. Maka kami bawa dia ke DSA (dokter spesialis anak) terdekat karena kami sudah panik dan Esha belum pernah seperti itu sebelumnya. Bisa dibilang dia punya lambung tahan banting dan tidak pernah muntah meskipun beraktivitas sesudah makan. Sore itu ruang tunggu dokternya kosong jadi kami tidak perlu menunggu lama. Tapi ternyata DSA-nya samasekali nggak mengenakkan hati (saya). Setelah pemeriksaan singkat -dengan Esha yang menjerit-jerit tidak mau diletakkan di tempat tidur- si dokter bilang dia belum bisa memastikan apa yang sebetulnya terjadi karena muntah adalah gejala umum dari beberapa penyakit. Yang paling mungkin adalah infeksi saluran cerna atau awal dari diare. Saya sudah nggak bisa mikir dan pertanyaan yang tadinya penuh di kepala saya sudah *poof!* begitu saja. Tadinya saya mau tanya; kalau memang infeksi kenapa Esha tidak demam? kalau muntah yang sifatnya otomatis begitu apa gangguannya spesifik di lambung? Tapi sudah keburu ilfeel dan akhirnya sudahlah tebus saja dulu obatnya. DSA ini mempreskripsikan Vometa dan Biothicol. Yang terakhir ini antibiotik.
Sampai rumah saya cari informasi tentang balita-balita yang juga muntah mendadak. Kebanyakan dari mereka memang diberi Vometa, dan penyebab muntahnya macam-macam. Ada yang karena gangguan pencernaan, karena lendir yang tertelan setelah batuk-pilek, dan banyak lagi. Tapi yang pasti jangan sampai si anak dehidrasi karena akibatnya fatal (maka kemudian saya jadi paranoid.) Saya sudah membayangkan kemungkinan terburuk kalau si Vometa ini tidak manjur dan Esha tetap muntah; pergi ke rumah sakit dan Esha diinfus. Tapi alhamdulillah malam itu dia sudah bisa minum susu tanpa dikeluarkan lagi. Jangan tanya seperti apa rasanya tiap kali Esha minta minum (dia pasti kehausan sekali) dan melihat dia meneguk sedikit-sedikit airnya. Dia berhenti muntah tapi kemudian badannya menghangat. Saya bersikeras tidak meminumkan si antibiotik Biothicol ini karena diagnosa yang tidak jelas dan saya tidak mau meracuni Esha dengan obat yang tidak pasti. FYI, Biothicol ini diindikasikan untuk Infeksi yang disebabkan oleh Salmonella, H. Influenzae (terutama infeksi meningokokal), Rickettsia, organisme Gram negatif yang menyebabkan bakteremia (beredarnya bakteri dalam darah), meningitis (radang selaput otak). Aturan pakainya pun harus disesuaikan dengan berat badan pasien. How scary is that? Jadi saya simpan baik-baik saja di kotak hijau itu dan memilih parasetamol dan plester kompres demam untuk menurunkan panasnya. Keesokan harinya Esha sudah mulai cerewet lagi meskipun nafsu makannya menurun drastis dan dia masih trauma dengan mual-muntah yang bikin dia takut untuk minum atau makan banyak.
Alhamdulillah mulai empat hari kemarin dia sudah normal lagi :)
Tapi, sesudah sakit, dia jadi lebih manja. Akibatnya, waktu masuk sekolah lagi, dia minta ditemani di kelas lagi. Hiks. Padahal dia sudah mulai mandiri sebelumnya. Dan baru kemarin saya tau ketakutan dia selain pada anak-anak besar; takut tidak bisa. Oh, baby... Saya tau itu waktu gurunya membagikan buku mewarnai dan kotak crayon. Teman-temannya dengan antusias memilih crayon dan mulai mewarnai sementara dia malah menangis dan bilang pada saya, "Esha nggak mau buku sama crayonnya. Esha kan udah punya di rumah."
Saya bilang, "Sayang, yang di rumah itu buat belajar di rumah. Yang ini buat belajar di sekolah."
Akhirnya dia mau mewarnai tapi masih sambil berkaca-kaca dan minta dibantu. Saya lihat teman-temannya sudah jago-jago mewarnai. Begitu rapi dan berhati-hati. Jadi saya membesarkan hati Esha dengan bilang kalau dia juga pasti bisa kalau mau berlatih. Sayang sekali gurunya kerepotan mengejar anak-anak yang berlarian sehingga tidak punya waktu untuk menengok proses kerja muridnya satu persatu dan bertanya apakah mereka senang atau adakah yang bisa dibantu. Yah, namanya juga orang tua murid, pasti salah satu kerjaannya mengkritik guru :p
Lalu, siapakah si 'S'?
Ini adalah senjata salah satu guru di kelas Esha. 'S' adalah panggilan akrab untuk 'Syaiton' yang sudah dicanangkan sebagai musuh utama semua murid di Permata Hati. Kalau anak-anak sudah tidak bisa dikontrol (ada yang berlari-lari, ada yang rebutan mainan, ada yang membongkar kotak mainan, ada yang teriak-teriak) maka si ibu guru yang satu ini akan bilang, "Ayo yang tidak mau duduk jadi temannya si 'S'!" semua yang menjengkelkan adalah temannya si 'S'. Dan kalau sudah sangat jengkel, beliau akan menggambar si 'S' dengan taring dan mata melotot di papan tulis. Saya mulai bertanya; "Apakah ini sehat buat anak-anak? Apakah karena ini sekolah berbasis agama jadi sah-sah saja terus menerus menjadikan si 'S' ini sebagai ancaman buat anak-anak?"
Oh dear. Saya sedang berusaha jadi lebih dari sekedar kata hati.
Posted by bu anis at 11:46 PM 4 comments
Tuesday, July 20, 2010
Minggu Pertama Esha di Sekolah
Tiga kali pertemuan (Esha sekolahnya cuma 3 kali seminggu, memang :D ) dan masih minta ditemani di kelas. Jadi murid paling muda dan paling mirip bayi mungkin menguntungkan dan tidak pada saat bersamaan.
Hari pertama (13 Juli 2010)
Waktu semua anak-anak harus baris di depan kelas, Esha malah nangis dan minta digendong. Begitu banyak orang, banyak ibu-ibu. Crowded kayak di pasar, huehehehe, dan masih separo anak di kelasnya masih minta ditemani. Terbayang kan gimana padat merayapnya kelas Melati hari itu? Suara anak-anak nangis, jerit-jerit rebutan mainan, dan dua orang guru di kelas rasanya jauh dari memadai untuk situasi macam itu. Yang paling menjengkelkan, ada anak laki-laki berbadan besar yang tangannya ringan macam bulu; pukul, dorong, cubit, jambak. Lengkap. Esha yang mungil begitu juga jadi korbannya. Untung saya masih menemaninya, jadi bisa buru-buru saya peluk. Gurunya terlalu sibuk menurunkan anak-anak yang naik ke meja, mengeluarkan mereka yang masuk ke kotak bola-bola dan seolah sedang di taman ria, melerai anak yang berebut puzzle... Ya Tuhan. Energi dan emosi mereka pasti terkuras habis hari itu. Saya sangat mengerti. Tapi saya tetap mengharapkan kontrol yang lebih baik dari mereka. Seharusnya satu orang guru bisa berdiri di depan kelas, membawa alat musik atau boneka tangan dan mencoba memusatkan perhatian anak-anak padanya dan bukannya duduk di satu sisi kelas dan terus mengajarkan doa ke doa (Al-Fatihah, doa mau belajar, doa mau makan, doa selesai makan, doa mau pulang, doa naik kendaraan.) Sembilan puluh menit pertama sangat tidak efektif jadinya. Bukannya saya bilang mengajarkan berdoa itu tidak perlu, tapi sepertinya harus diterapkan cara yang lain supaya anak-anak tertarik dan mau mendengarkan.
Sepanjang hari itu Esha duduk merapat pada saya tapi syukurlah dia kemudian mau bersalaman dengan gurunya di akhir kelas dan mengambil bintang kertas dari depan kelas.
Hari kedua (15 Juli 2010)
Overall, semuanya membaik. Dia mau ikut berbaris meskipun masih harus nempel ke saya karena ketakutan lihat ada Vino (si tangan bulu) di sebelahnya. Di kelas dia mulai mau berbaur dengan teman-temannya, dan saya senang sekali karena mereka pintar-pintar (sudah mengenal warna, bentuk, lihai menyusun puzzle) dan yang paling penting Esha bisa lihat contoh dari mereka untuk berani memperkenalkan diri di depan kelas. Pulangnya dia sudah mau berbaris sendiri dan minta cap tangan dari gurunya.
Hari yang sama, begitu banyak orangtua yang bertanya pada saya berapa usia Esha. Mungkin karena dia kelihatan belum cukup umur untuk sekolah :D
Hari ketiga (17 Juli 2010)
Hari Sabtu, ayahnya libur dan ikut mengantar ke sekolah. Saya berharap dia jadi lebih semangat dan antusias menunjukkan ini dan itu pada ayahnya. Ternyata, dia malah melempem. Bahkan mogok di depan gerbang. Waktu berbaris dia menangis lagi dan minta pulang. Tapi setelah saya bujuk-bujuk, dia akhirnya mau masuk kelas dan meletakkan tasnya sendiri di rak. Hari itu menyenangkan buat dia karena sudah mulai ada lagu dan permainan di kelas dimana dia dengan gembiranya ikut berpartisipasi.
Tugas saya sekarang adalah membantunya untuk percaya pada dua gurunya dan berani untuk melepaskan diri dari saya pelan-pelan. Tentunya dengan catatan bahwa gurunya juga harus terus mengawasi Vino yang sudah jadi ancaman buat semua orangtua murid kelas Melati. What's wrong with the boy? Kenapa ibunya diam saja melihat anaknya begitu ringan tangan dan bolak-balik ditegur? It's none of my business but will surely be if he ever touches my daughter again.
Secara pribadi, saya sangat ingin bicara dengan guru kelas Esha dan berbagi pikiran tentang cara mengajar. Kurikulum sekolahnya seharusnya bagus, tapi kalau eksekutor-nya tidak, lalu apa gunanya? Saya tau betul seperti apa anak-anak yang baru pertama kali masuk ke lingkungan sekolah. Mengharapkan mereka bisa langsung mandiri dan menurut akan jadi terlalu melambung. Hari-hari pertama seharusnya adalah kesempatan untuk membangun kepercayaan antara murid-guru-orangtua. Icebreaking sangat perlu di saat-saat awal. Seharusnya ada momen intim, tenang, dan hangat. Membaca dongeng, roleplaying menggunakan boneka, dan terus menerus menyebutkan nama tiap anak bergantian seharusnya cukup untuk itu. Guru-guru Esha kelihatannya terlalu terpaku pada teks, kebiasaan, dan pakem yang mungkin sudah mereka lakukan bertahun-tahun.
Mungkin saya yang terlalu idealis? Terlalu protektif terhadap Esha?
Tetap saja, saya sangat ingin bicara dengan guru-gurunya. Tiap tahun anak-anak semakin pintar dan pasti selalu berbeda. Seharusnya perubahan di kelas juga layak diterapkan.

Posted by bu anis at 12:19 AM 0 comments
Labels: esha's progress, ibu, parenting, personal
Saturday, June 5, 2010
thought of the moment
why do some parents say, "you're just a kid. you don't know what you want. just let me choose what's good for you." don't they learn that kids know better? why don't they spare some time to listen and talk rather than patronizing and dictating?am i becoming one of the lousy parents?
hopefully not...
Posted by bu anis at 2:59 AM 0 comments
Friday, May 21, 2010
Ayo Sekolah! :)
Maka, tanggal 12 Juli nanti akan jadi hari bersejarah buat Esha: hari pertama sekolah. Yay! Dua hari lalu akhirnya saya ajak Esha untuk lihat-lihat calon sekolahannya. Di dekat rumah ada dua playgroup; PG Islam Permata Hati dan PG Soda Harapan (sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, kenapa namanya Soda...). Tadinya saya cenderung daftarin Esha di PG Soda. Alasannya; lokasinya aman (di perumahan, jauh dari jalan raya), dan saya pikir bertemu teman-teman yang heterogen (beragam agama dan etnis) akan bikin dia belajar untuk lebih berpikiran terbuka dan tenggang rasa. Tapi ternyata sesudah berkunjung dan ketemu sama pihak sekolahnya, saya merasa PG Islam Permata Hati lebih nyaman untuk anak-anak dilihat dari ukuran ruangan kelas, dan chemistry saya dengan guru yang saya temui :D Iya, saya pikir nanti rasanya akan sama seperti berhubungan dengan dokter kandungan; harus nyaman untuk berkonsultasi dan harus bisa membantu saya untuk selalu semangat dan berpikir positif tentang perkembangan Esha. Waktu itu Esha nggak mau beranjak. Dia bilang, "Mau sekolah, bu... Mau ke sekolahan..." dan saya bilang dia belum bisa mulai, harus tunggu dua bulan lagi dan harus pakai seragam kalau ke sekolah. Akhirnya dia mau pulang.
Sebenarnya umur Esha masih belum cukup untuk mulai sekolah di PGI PH karena seharusnya toleransi usia paling dini disitu 2 tahun 8 bulan, sementara Esha per Juli baru 2 tahun 7 bulan (ah, beda sebulan aja, bu. hehehehe...). Tapi ternyata boleh (agak heran waktu gurunya bilang, "anak perempuan ya, bu. nggak papa mulai di 2,7 bulan." hm?) Tujuan terbesar saya memasukkan Esha ke sekolah -mungkin- mengasah kemampuan sosialisasinya. Karena, jujur, saya bukan contoh yang baik dalam hal ini buat dia. Soal dia akan jadi mandiri, berani, dan bisa mengenal dan melakukan hal-hal baru, saya yakin, pasti akan terjadi dengan sendirinya saat dia sudah siap.
Saya sudah bertemu banyak macam orang tua ketika dulu saya mengajar, dan saya tau saya mau jadi bagian dari mereka yang membiarkan anak-anaknya bahagia, gembira, tumbuh sehat, untuk kemudian bisa jadi anak yang berbakat dan cerdas. Saya tidak akan memaksa Esha untuk berjalan lebih cepat dari kemampuannya atau memilih apa yang dia tidak suka.
Hope she'll like the first day at school *praying hard*
Posted by bu anis at 3:02 PM 0 comments
Labels: esha's progress, parenting, personal
Monday, May 17, 2010
weekend yang hemat dan menyenangkan
Senangnya kalau akhir minggu sudah datang. Hari Sabtu & Minggu waktunya berkumpul dan bersenang-senang sesudah seminggu ada di rummah dan kami cuma ketemu ayah sepulang kerja :) Tapi, jadi istri dan ibu juga harus bijak. Kalo tiap weekend foya-foya, bisa-bisa dua minggu di akhir bulan gak makan. Huehehehe...
Makanya, senang bisa tinggal di Surabaya, karena banyak taman yang layak untuk berakhir pekan dan menyenangkan buat anak-anak. Seringnya kami ajak Esha ke Taman Prestasi di pinggir Kalimas. Tamannya luas, bersih, fasilitasnya terawat, dan teduh. Permainan untuk anak-anaknya banyak dan ada monyet jinak yang bisa diajak main-main. Hihihi... Esha bisa puas main disana dan pulang dengan gembira. Minggu pagi bisa juga ke Taman Bungkul, enak buat olahraga dan lari-lari. Di pojoknya ada playground kecil, tapi sayang becek sesudah hujan.
Playground di mall juga menyenangkan, tapi hati-hati dengan kebersihannya. Terutama di area mandi bola. Teman-teman saya punya pengalaman tidak menyenangkan dengan fasilitas ini. Pulang dari mandi bola, anak-anaknya sakit dan penyakitnya pun bukan sekedar flu tapi kelumpuhan temporer dan luka mulut! Dokternya bilang kena virus. Jadi saya selalu ajak Esha ke playground mall yang tidak terlalu ramai, dan saya lihat dulu kondisi mainan-mainannya dan harus ingat untuk kasih antiseptik di tangan Esha sesudah dia main.
Aite, parents, selamat berakhir pekan :)
Posted by bu anis at 2:17 PM 0 comments
Labels: parenting
Wednesday, March 17, 2010
menyelam
saya sedang menginterogasi diri sendiri dengan pertanyaan; "apakah kamu sudah cukup meluangkan waktu dengan Esha?" dan itu sudah cukup untuk menampar.
hari ini saya tau betapa buruknya manajemen waktu saya di rumah. melakukan hal yang sama berulang-ulang dengan ritme yang tidak berubah (saya tidak perlu melihat jam saking 'disiplin'-nya jadwal harian saya) tidak berarti semuanya berakhir baik dan hasilnya brilian. kenapa? karena saya juga seorang ibu, bukan hanya pekerja domestik. ibu harus tau bahwa setiap hari anaknya berubah; perasaannya, hatinya, pikirannya, sifatnya, setiap atomnya. seorang ibu tidak bisa mengurus anaknya dengan jadwal yang sama terus menerus setiap hari seperti dia memasak atau membersihkan rumah. segila apapun kerjaan rumah, seorang ibu tidak boleh mengabaikan apa yang sedang anaknya ceritakan. saya sangat mengerti itu sekarang.
hari ini saya belajar lagi dari Esha. mulai dari pagi-pagi waktu dia minta biskuit dan cuma dimakan setengah dan sisanya dibuang ke lantai. seperti biasanya, saya -si bad temper- langsung ngomel-ngomel. betapa kagetnya saya waktu Esha tiba-tiba bilang, "ibu, jangan marah-marah. ngomong aja." hah? dan dia bantu saya membersihkan remah-remah biskuit di lantai. ooooof course saya tertohok. sangat! darimana dia tau kata-kata seperti itu dan bisa mengatakannya di saat yang saaaangat tepat? bukan sesuatu yang buruk. samasekali bukan. saya cuma merasa dipentung di kepala dan sadar bahwa anak perempuan saya bukan anak kecil lagi.
lalu, dua jam sebelum makan siang, saya membereskan setrikaan yang menumpuk. "Esha main sama beruang dulu, ya? sambil liat video Dea? (FYI, Dea itu penyanyi kecil dari surabaya. lagunya gak aneh-aneh dan Esha suka)" dan Esha mengiyakan. tapi, baru beberapa baju disetrika, dia bilang "ibuuuu ayo main-main sama Esha..." dan saya -si repot- bilang, "iya, sebentar ya. sedikit lagi kok." padahal masih numpuk. beberapa menit kemudian dia panggil-panggil saya lagi dan mulai berulah.
YANG -SEHARUSNYA- SAYA LAKUKAN: mematikan setrika dan bermain dengannya
tapi, YANG SAYA LAKUKAN: terus menyetrika sambil membujuk dia untuk main lagi TANPA melihat wajahnya
akibatnya: dia jadi cranky dan menangis
waktu saya menggendong dan memeluknya, dia bilang "ibu, ayo main-main..." sekali lagi dia menubrukkan satu truk gandeng ke dada saya. jangan tanya apa rasanya.
yang terakhir adalah sebelum tidur siang. seperti biasa dia suka sekali melompat-lompat di tempat tidur. saya bilang, "ayo bobo dulu." dia malah makin gencar melompat dan tidak mau mematikan TV. akhirnya saya pura-pura tidur. dia berhenti melompat, lalu merebahkan kepalanya di dekat saya. wajahnya menghadap wajah saya. "Esha mau bobo sama ibu." katanya sambil mengusap-usap pipi saya dengan tangan mungilnya. semenit kemudian dia terlelap.
membaca apa yang saya tulis tadi pasti yang terbayang adalah betapa saya adalah ibu yang lalai, jahat dan tidak sayang anaknya. saya juga merasa begitu. padahal saya duapuluhempat jam bersamanya dan full mengurusi keperluannya. tapi apa? saya tidak peka. secara tidak sadar saya sudah memasukkannya ke daftar kerjaan saya sehari-hari dan lupa untuk meluangkan saat yang berkualitas dengannya. saya bisa bilang mungkin itu karena saya lelah, kacau, dan bodoh. tapi itu tidak bisa jadi alasan. tidak boleh jadi alasan. saya seorang ibu, dan ibu tidak punya alasan untuk tidak jadi ibu yang baik. karena kemampuan itu pasti ada di setiap ibu dan harus dijadikan prioritas dengan cara: selalu sadar.
lalu, tentu saja akan ada yang bilang; ibu juga manusia - bisa bikin salah. tapi kalau tidak pernah belajar dari kesalahannya? namanya dungu. jadi ibu tidak boleh dungu.
Esha sudah besar. dia akan segera jadi remaja dan saya tidak boleh lagi mengabaikan apa yang sebenarnya dia ingin sampaikan.
hari ini saya; telanjang dan babak-belur...
Posted by bu anis at 4:45 PM 0 comments
Wednesday, March 3, 2010
the "Thinking Chair"
When still a teacher at a toddler school in Surabaya, I used to share with this mother a lot. She was a teacher herself for a primary school. Her son was two years old when he entered my music class. Such a shy boy. For several first meetings he would just stand behind his dad and wouldn't move a bit, leave alone to sing or dance. But then we managed to crack his shell :)
I guess everyone would know who he got the shell from, since his mom was such a sanguine that we would hang around with all day conversing with. While his dad was this quiet neat man who sometimes made me laugh with his awkward movement when music played during the class (but he got my thumbs up for his hearty try to fire up his son).
Okay, back to the missus, we usually had a talk when she took her younger son to exercise his gross motor skill in the morning. She would ask me how my pregnancy was going and tell me how he got her both boys delivered. Then she would tell me that Clark -the shy big brother- could be such a rebel at home and wouldn't stop talking. And every time he made a mess, she wouldn't do the pinch or shout but just simply asked him to sit in his "thinking chair" for 10 minutes. then after that she would pop the question; "Have you found what you did wrong?" and problem solved with no war whatsoever.
I always sighed at the idea. Almost like the "time-out" rule on the Nanny 911.
Now I can't think of sighing anymore. Well, I DO sigh - not in relieve, but at the edge of exploding. I can't seem to apply the "thinking chair" policy with Esha. Not because she doesn't get the idea, but because I stress out upfront. Way to go, mom.
But, sometimes, I just can't say or do anything anymore when she rebels and choose to just leave her alone and sit on my own. Surprisingly, it works the same effect; she would stop the racket and come up to me to apologize.
Well, I guess that's her thinking chair and, yes, silence works better than shouting. That's when you're not in panic.
Posted by bu anis at 3:58 PM 0 comments
Saturday, February 20, 2010
Thought of the moment
"Giving up to and getting what your child is crying for isn't going to solve the problem. It's only the begining of a bigger stress. So, be firm but don't be mean."
Posted by bu anis at 10:09 AM 0 comments
Tuesday, February 16, 2010
Banyak Makan Tapi Tidak Gemuk [artikel Nakita]
saya yakin banyak ibu-ibu yang juga kepikiran, "kenapa ya si kecil kok berat badannya naiknya pelan banget padahal dia makannya lahap dan minum susunya banyak?" tenang, bu. jangan langsung berpikir si kecil kurang gizi atau tidak sehat (karena saya sendiri paling tidak suka berpikir demikian meskipun Esha awet mungil :) )
Artikel dari Nakita ini mungkin bisa membantu ibu mencari jawaban dari "kenapa" itu tadi.
Yang Penting: Sehat!
Meski anak-anak terlihat kurus atau pertumbuhan BB-nya tidak optimal, tapi kalau makannya bagus, orangtua tak perlu khawatir. Apalagi bila semuanya dipastikan baik, termasuk hasil pemeriksaan lab menunjukkan tidak ada penyakit, bisa jadi secara genetik anak memang tidak bisa gemuk. Selain itu, tinggi badan juga bisa membuat penampilan anak tampak kurus, yakni bila menurut umur, TB-nya lebih sementara BB-nya cukup. Namun, sekali lagi, selama tak ada yang mencurigakan dan anak pun jarang sakit, berarti tak ada yang perlu dicemaskan.
Kemampuan Anabolisme & Katabolisme
Sebetulnya, makanan hanya salah satu faktor yang mempengaruhi optimal tidaknya pertumbuhan anak. Masih ada faktor lainnya, seperti kemampuan tubuh untuk menyimpan sari-sari yang dianggap penting dari makanan yang masuk (anabolisme) dan kemampuan tubuh untuk menghancurkannya (katabolisme). Nah, pada masing-masing anak, kemampuannya berbeda. Jika kemampuan anabolismenya baik, maka makanan yang masuk dapat disimpan dengan baik pula dan akhirnya "jadi daging". Sebaliknya, anak yang sistem katabolismenya lebih tinggi, begitu makanan masuk, sebelum diserap pun banyak yang hancur. Kemampuan anabolisme dan katabolisme lebih bersifat genetis alias diwariskan secara turun-temurun.
Pada Esha, kasusnya mungkin sistem katabolisme yang lebih tinggi. Dari masih bayi, tiap asupannya banyak, langsung lancar "dibuang" lagi. Sampai ibu saya bilang dia mirip burung. Makan banyak - pup - makan banyak - pup. Hehehehe.
Tapi, ibu, tetap pantau asupan gizi-nya, ya. Terutama pada anak aktif. Makan banyak belum tentu gizi-nya baik juga, kan? Yang penting, tetap semangat menemani anak saat makan.
Semoga bermanfaat ya, bu :)
Posted by bu anis at 2:23 PM 0 comments
Labels: parenting
thought of the moment
When your children are being difficult or rebellious or won't be told, don't ever feel like giving up or turning your back on them. Because it's when they need you the most, and events like these will make the bond between mother-children even stronger and more unbreakable. So, stay and let them calm in your arms and you'll know that they just need you more than usual and, no matter how peculiar the way is, that's how they channel it out to you.
Posted by bu anis at 1:55 PM 0 comments
Monday, January 18, 2010
a broken-hearted mom
i miss my breastfeeding moments with Esha. the way her eyes stared into mine and her little fingers rustling my shirt while i held her so close to me. i even remember it when she had fever and i could feel her burning lips on my chest and that we both knew only the milk could put her at ease.
i miss her.
she's grown so much and after the weaning she seems to look for his dad for comfort rather than for me. then i've become a sentimental woman thinking that her baby girl doesn't need her anymore. of course everyone will say it's not true. but my heart won't be told. not now.
i wish i didn't have to be so emotional about all this and cry my heart out. but i can't. i miss her too much...
Wednesday, February 4, 2009
big gift from a petite package
Ayesha lahir tanggal 19 Desember 2007, dengan berat 2,4 kg dan panjang 47 cm. Bayi yang kecil. Dia langsung masuk inkubator waktu itu, dan lima hari pertama sangat berat buat saya dan ayahnya karena kami cuma bisa menyentuh dia sekali sehari saat dia diperbolehkan keluar dari inkubator untuk minum ASI langsung. Sisanya, kami cuma bisa liat dia dari luar jendela kamar bayi sambil mengantar ASI perahan. Sedih.
Begitu dia pulang, sebanyak mungkin dia saya beri ASI dan pelukan. Box-nya selalu diterangi lampu kuning (in a way, lucu... seperti anak ayam). Alhamdulillah saya bisa kasih dia ASIX enam bulan dan selama itu juga kenaikan berat badan dan kesehatannya sangat menggembirakan.
Sekarang dia sudah mulai jadi gadis kecil. Tumbuh pintar dan aktif.
Mudah-mudahan saya bisa jadi pembimbing yang baik buat dia sampai akhir.
Selamat menikmati perjalanan Esha, ayah, dan ibu disini ya :)
Untuk parents yang lain, please kindly share ilmunya dengan kami :D
Cheers!
Before you were conceived I wanted you
Before you were born I loved you
Before you were here an hour I would die for you
This is the miracle of life.
[Maureen Hawkins]
Posted by bu anis at 11:57 PM 0 comments
Labels: ASIX, bayi kecil, ibu, parenting


